Breaking News:

Berita Jember

Rektor Unej, Iwan Taruna Rektor Unej Minta Korban Tindak Kekerasan Seksual Berani Bicara

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna meminta penyintas tindak kekerasan seksual untuk berani berbicara, dan melapor.

sri wahyunik/surya
Rektor Unej Iwan Taruna 

Reporter : Sri Wahyunik | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Rektor Universitas Jember Iwan Taruna meminta penyintas tindak kekerasan seksual untuk berani berbicara, dan melapor.

Hal tersebut ditegaskan oleh Iwan setelah Unej digegerkan dengan pelaporan seorang penyintas pencabulan oleh oknum dosen Universitas Jember, berinisial RH, ke Polres Jember.

"Harus berani 'speak up' (bicara), jangan diam, jangan takut," ujar Iwan, Jumat (9/4/2021).

Dia mengakui telah mengetahui pelaporan peristiwa itu ke polisi. Karenanya, pihaknya juga membentuk tim investigasi untuk menyelidiki peristiwa itu dari sisi disiplin pegawai di internal Unej.

Baca juga: Oknum Dosen PTN di Jember Cabuli Keponakannya, Modus Terapi Kanker Payudara, Korban: Tolong, Ma!

Baca juga: Gus Baha Tolak Bantuan Uang Miliaran Untuk Bangun Pesantren, Ini Alasan Gus Baha

Baca juga: Rektor Universitas Jember Iwan Taruna Resmikan Masjid Al Hikmah Unej

Iwan mengakui juga peristiwa tersebut bukan yang pertama kali ini terjadi. Bahkan sebelumnya, Unej punya pengalaman memecat seorang dosen sebuah fakultas di Unej karena juga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswanya.

"Mohon maaf, kalau korbannya rata-rata mahasiswa, ada ada tindakan dari dosen yang mencurigakan, tidak usah takut. Lapor saja, bisa ke PSG (Pusat Studi Gender) Universitas Jember. Mungkin keberatan dengan tindakan dosen, dalam tanda kutip, yang menyimpang. Tidak usah takut untuk melapor, karena identitas pelapor akan terjaga, dilindungi dan dirahasiakan," tegasnya kepada TribunJatim.com.

Iwan mencontohkan, pihak Unej pernah menangani sebuah laporan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan seorang dosen terhadap mahasiswanya tahun 2019 lalu. Meskipun laporan itu tidak masuk ke ranah hukum, pihaknya tetap menindaklanjuti laporan di internal.

Hasilnya, dosen tersebut dinyatakan bersalah dan akhirnya dipecat. "Bahkan model penanganan di Unej menjadi referensi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat Peraturan Menteri terkait penanganan kekerasan di dalam kampus. Kalau nanti Permen ini sudah disahkan, tentunya kami juga akan mengaplikasikannya," imbuh Iwan.

Dalam penanganan dugaan pencabulan yang dilakukan dosen RH kepada keponakannya, lanjut Iwan, investigasi sedang berjalan.

Investigasi dalam rangka pemeriksaan itu dimulai dari tingkat fakultas.

Ketika Surya bertanya bagaimana jika dalam investigasi itu, tim menemukan korban lain, Iwan menyebut bisa saja hal itu terjadi.

Seperti diberitakan, seorang dosen Unej berinisial RH dilaporkan ke Polres Jember atas dugaan tindakan pencabulan terhadap keponakannya yang berusia 16 tahun (anak). Pencabulan itu bermodus memberikan terapi kanker payudara, sambil menunjukkan jurnal tentang terapi kanker payudara.

Penyidik di Unit PPA Satreskrim Polres Jember telah meminta keterangan dari sejumlah saksi, baik saksi pelapor maupun terlapor.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved