Penangkapan DPO Pencabulan Jombang

Buntut Viralnya Video Ajakan Perang Badar di Ponpes Shiddiqiyyah Jombang, Orator Akan Diperiksa

Buntut viralnya video ajakan Perang Badar di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang, orator akan diperiksa polisi. Surat pemanggilan sudah dilayangkan.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Viralnya video salah satu pengurus Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, berorasi berapi-api seraya menukil sejarah Perang Badar zaman Rasullulah, di hadapan ratusan santri seusai diperiksa di Mapolres Jombang, Jumat (8/7/2022), berbuntut panjang. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Viralnya video salah satu pengurus Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, berorasi berapi-api seraya menukil sejarah Perang Badar zaman Rasullulah, di hadapan ratusan santri seusai diperiksa di Mapolres Jombang, berbuntut panjang. 

Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Giadi Nugraha mengatakan, pihaknya sudah menerima adanya temuan viralnya video tersebut. 

Proses penyelidikan sudah mulai dilakukan oleh pihaknya. Mulai dari melakukan analisis terhadap konten informasi dalam rekaman video tersebut, dengan melibatkan ahli bahasa.

"Itu sudah kami laksanakan analisa, terkait video yang beredar, terkait dengan pascadipulangkannya massa yang diamankan di Mapolres Jombang," kata AKP Giadi Nugraha di Mapolres Jombang, Senin (11/7/2022). 

AKP Giadi Nugraha mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang saksi atas kemunculan video tersebut di media sosial, tak terkecuali pihak-pihak yang mengetahui proses pembuatan video. 

Dalam waktu dekat, yakni pekan ini, penyidik Satreskrim Polres Jombang akan mengagendakan pemeriksaan pada orator dalam video tersebut. 

AKP Giadi Nugraha memperkirakan, orator berinisial ES itu, akan menjalani pemeriksaan sebagai saksi, paling cepat pada Rabu (13/7/2022), atau paling lambat pada Kamis (14/7/2022) mendatang.

Karena surat pemanggilan atas agenda tersebut sudah dilayangkan pada Senin (11/7/2022). 

"Hanya satu orang yang kita jadwalkan untuk pemanggilan. Inisialnya E," ungkapnya. 

Disinggung mengenai konstruksi hukum atas beredarnya video tersebut, AKP Giadi Nugraha mengaku, pihaknya, masih menunggu hasil pemeriksaan dan proses gelar perkara yang akan dilakukan penyidiknya nanti. 

"Kayaknya belum. Kita masih lihat dulu, koordinasi dengan ahli bahasa. Apakah hal-hal tersebut masuk ujaran kebencian. Atau provokasi yang mengarah ke tindak pidana. Kita koordinasikan dulu," pungkasnya. 

Sebelumnya, viral video orator berapi-api menukil sejarah Perang Badar di zaman Rasullulah, di hadapan para santri dan jemaah Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Video berdurasi 2 menit 5 detik itu ditegaskan Ketua DPP Organisasi Shiddiqiah (Orshid) Joko Herwanto, sebagai sebuah motivasi. 

Namun, motivasi tersebut, bukan ditujukan untuk sebuah misi melawan secara represif menggunakan kekerasan fisik terhadap ketetapan hukum yang telah ditegakkan oleh aparat berwajib, atas kasus hukum yang menimpa anak pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang, Moch Subchi Al Tsani (MSAT) alias Mas Bechi.

Karena momen yang direkam dalam video tersebut, terjadi di teras utama ponpes, pada Jumat (8/7/2022) sore. Yakni selepas para santri dan jemaah ponpes menjalani pemeriksaan di Mapolres Jombang

Sedangkan, orator yang berapi-api dengan bahasa yang sastrawi nan ajek itu bernama Edi Setiawan. 

Baca juga: Pantas Tak Ada di Ponpes, Mas Bechi Anak Kiai Tersangka Pencabulan Ternyata di Sini Saat Penangkapan

Edi Setiawan, melalui orasinya bermaksud memotivasi 318 orang santri dan jemaah Pondok Pesantren Shiddiqiyyah yang baru saja menjalani pemeriksaan di Mapolres Jombang, karena insiden penangkapan paksa Mas Bechi terkait kasus pencabulan pada Kamis (7/7/2022). 

Joko menerangkan, Edi Setiawan, merupakan salah satu pengurus ponpes, yang berniat membangkitkan kembali motivasi santri dan jemaah untuk tetap semangat menuntut ilmu dan tidak lagi bersedih.

"Itu video hanya kepentingannya menyemangati 300 orang santri yang baru dipulangkan dari mapolres. Jadi bukan untuk provokasi," ujarnya saat dikonfirmasi TribunJatim.com, Minggu (10/7/2022). 

Joko menegaskan, pihaknya tetap menghormati keputusan dan proses hukum yang sedang menyeret Mas Bechi.

Tidak ada upaya-upaya sistemik atau bersifat di bawah tanah yang bertujuan menodai keputusan hukum tersebut. 

"Dari pesantren menghormati proses hukum. Tidak ada instruksi-instruksi yang tidak jelas itu," tegasnya. 

Ia juga menambahkan, terkait beredarnya video tersebut, pihaknya sudah memintai penjelasan terhadap Edi Setiawan, pada hari yang sama, yakni pada malam harinya. 

Sekaligus, Joko mengatakan, pihaknya juga meminta Edi Setiawan untuk membuat pernyataan tertulis untuk menerangkan maksud isi orasinya secara kontekstual sejelas-jelasnya muatan informasi yang terkandung dalam isi orasinya. 

Berdasarkan surat pernyataan yang dibuat Edi Setiawan untuk disampaikan kepada Joko Herwanto yang dibuat di Ploso, Jombang, Jumat (8/7/2022), sebagaimana yang dibaca TribunJatim.com, pada Minggu (10/7/2022), Edi menuliskan, orasi tersebut merupakan bagian dari ucapan sambutan kepada para santri dan jemaah Shiddiqiyyah yang baru menjalani pemeriksaan dari Mapolres Jombang

"Bersama surat ini kami mau menjelaskan bahwa pada saat penerimaan saudara-saudara yang pulang kembali ke Pesantren Shiddiqiyyah dari Polres Jombang. Selaku pengurus Orshid diminta untuk memberikan sambutan penerimaan."

"Pada saat bersalaman dengan mereka semua terlihat kondisi mereka yang kehilangan semangat, lunglai dan sebagian menangis haru. Melihat itu kami merasa perlu untuk memberikan semangat kepada mereka agar tetap siap berjuang dalam menjalankan program-program pesantren."

Edi sengaja memilih diksi dalam orasinya dengan susunan kata puitis, dalam menceritakan kisah perang zaman Rasullulah, agar para santri dan jemaah Shiddiqiyyah, kembali bersemangat. 

"Kami sengaja memilih gaya bahasa puitis agar bisa disampaikan secara singkat, jelas dan padat dalam menyemangati mereka untuk tetap kuat dalam ibadah, dengan mengambil kisah dari Perang Badar, sebab saat mereka datang semua orang yang hadir menyambut mereka dengan bacaan doa 'Sholawat Badar'. Terutama setelah selesai Perang Badar, Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Ada perang yang lebih besar dari pada Perang Badar'. 'Apakah itu ya Rasulullah?' tanya sahabat. Rosul menjawab, 'itu perang melawan Hawa Nafsu'."

"Bahwa apa yang sudah mereka alami mengandung hikmah yang besar, yaitu untuk menghormati Ulama Warotsatul Anbiya, yaitu Bapak Kyai Muchammad Muchtar Mu'thi dan ajaran Shiddiqiyyah, serta untuk kejayaan Indonesia Raya."

Kemudian, Edi juga menjelaskan, di tengah orasinya, dirinya juga melakukan umpan balik pernyataan yang bermaksud memantik motivasi para santri dan jemaah Shiddiqiyyah. 

Namun, ia mengakui, di sela melontarkan ucapan umpan balik itu, dirinya terselip lidah sehingga terdapat bagian diksi kalimat yang tidak utuh, lalu terkesan dalam rekaman video tersebut, menimbulkan penafsiran pemahaman yang berbeda dari pemahamannya. 

"Kemudian sebagai bagian akhir, kami menyampaikan agar mereka menjawab dengan penuh semangat, 'siapkah Anda untuk berjuang di Shiddiqiyyah?' dan mereka menjawab 'siap'. 'Siapkah berperang melawan hawa nafsu?'."

"Maksud saya itu yang mau kami sampaikan sebagai akhir dan hikmah Perang Badar. Hanya saja saya mengakui kesalahan saat berbicara itu karena harus menelan ludah karena terharu yang dalam sehingga terjadilah selip lidah, sehingga saya hanya menyampaikan 'Siap berperang?' yang seharusnya, 'Siap berperang melawan Hawa Nafsu?'."

"Untuk itu, kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada Bapak Ketua Umum Orshid atas kesalahan ucap yang telah saya lakukan itu. Niat kami hanya ingin memberikan semangat kepada mereka agar mereka tetap semangat dalam menjalankan ibadah dan program-program pesantren."

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Kumpulan berita seputar Jombang

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved