Yoga Bangun Harapan Lewat Ribuan Telur di Blitar

Di balik besarnya industri peternakan di daerah ini, ada banyak cerita perjuangan dari peternak rakyat yang membangun usaha dari nol.

Tayang:
Editor: Sudarma Adi
Istimewa
Salah satunya datang dari Yoga Dwi Sasana Putra, pemilik Sentra Jaya Telur di Dusun Sukosari, Desa Dawuhan, Kecamatan Gandusari. 

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Kabupaten Blitar dikenal sebagai salah satu sentra telur terbesar di Indonesia. 

Di balik besarnya industri peternakan di daerah ini, ada banyak cerita perjuangan dari peternak rakyat yang membangun usaha dari nol.

Salah satunya datang dari Yoga Dwi Sasana Putra, pemilik Sentra Jaya Telur di Dusun Sukosari, Desa Dawuhan, Kecamatan Gandusari.

Yoga bukan berasal dari keluarga dengan modal besar.

Sebelum menjadi peternak ayam petelur, ia sempat bekerja di minimarket, proyek bangunan, hingga menjadi pekerja migran di Korea Selatan.

Bukan anak orang kaya. Bukan pula seseorang yang lahir dengan banyak kemudahan. Namun dari keberanian dan kerja keras, Yoga berhasil membuktikan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari modal kecil dan tekad yang besar.

“Hidup saya dulu ya ngalir aja. Pernah kerja minimarket, pernah jadi pekerja migran di Korea, pernah ikut proyek bangunan juga. Tapi akhirnya saya mikir, saya harus punya tujuan,” ujarnya saat ditemui dalam program Mlaku-Mlaku Jatim.

Baca juga: Mau Liburan ke Blitar? Ini Rekomendasi Lima Tempat Wisata Favorit yang Ramai Diburu Wisatawan

Nekat Jadi Modal Utama

Sepulang dari Korea, Yoga pulang kampung tanpa membawa kemewahan.

Ia hanya membawa pengalaman hidup dan keberanian untuk mencoba. Modal awal usahanya pun jauh dari kata besar.

Ia mengandalkan uang pencairan BPJS Ketenagakerjaan dan hasil menjual motor pribadinya.

Total sekitar Rp25 juta menjadi titik awal lahirnya Sentra Jaya Telur.

Dari modal itu, Yoga memulai usaha ternak ayam petelur dengan jumlah ayam yang masih sangat sedikit.

Namun seperti banyak perjuangan lainnya, jalan yang ia tempuh tidak langsung mulus. Ia pernah rugi besar. Harga pakan naik. Ayam terserang penyakit. Bahkan musibah besar pernah datang saat dirinya mencampur pakan sendiri.

“Tangan saya pernah masuk mesin sampai operasi. Sampai sekarang nggak bisa lurus total,” katanya sambil menunjukkan bekas luka di tangannya.

Momen itu menjadi titik terberat dalam hidupnya. Namun justru dari rasa sakit itulah tekad Yoga semakin kuat.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved