Berita Viral

Dampak Nyata 2 Kampung di Gresik yang Terapkan Daur Ulang Sampah dan Urban Framing

Dua kampung yang ada di Kabupaten Gresik memiliki perbedaan nasib dalam menjalankan hidup lestari dari daur ulang sampah.

Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
Istimewa/Kompas.com
BEDA NASIB - Penampakan salah satu sudut Kampung Kreasi di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan/Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (15/4/2026). Ternyata terlihat perbedaan nasib antara dua kampung yang menggerakkan konsep ramah lingkungan. 

Kemudian, pada tanggal 27 November 2022, Kampung Siba di-launching oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman sebagai kampung zero waste.

Saat itu, Ipung mengklaim bahwa warga sudah mampu mengolah 48 persen sampah organik yang ada di Kampung Siba.

"Pengolahan sampah organik kan mudah, jadi biopori, bisa jadi kompos. Setelah di-launching itu kita ada pengembangan-pengembangan, dengan menjadi Kampung Siba klasik. Kemudian, ada Gresik Kawasan Merdeka Sampah pada akhir 2023, dan di tempat kami jadi pilot project," ungkap Ipung.

Selain itu, pada 2023, Kampung Siba juga termasuk dalam kampung Proklim tingkat nasional. Sementara terkait ketahanan pangan, di Kampung Siba terdapat berbagai macam tanaman hingga budidaya ikan yang memanfaatkan lahan sempit.

"Budidaya Ikan sejak 2024. Awalnya ikut program Proklim budidaya ikan, terus kita lirik ada lahan sempit milik kelurahan (pemerintah) yang kemudian kami manfaatkan," katanya.

Ada sebanyak dua kolam yang dibuat di Kampung Siba, berukuran 2x1 meter dengan kedalaman 70 sentimeter. Ada yang berisi ikan nila, ada pula yang diisi ikan tombro.

"Panen kalau ikan sudah besar dan ada warga yang mau, ya diambil gitu aja. Sebab yang beri makan ikan-ikan itu juga warga, dari sisa makanan, sisa nasi, sisa roti. Mengingat beli makanan ikan juga tidak murah," ujar Ipung.

Selain budidaya ikan, pekarangan rumah warga di Kampung Siba juga dihiasi dengan beragam tanaman. Mulai dari tanaman untuk pengobatan seperti bawang dayak dan bunga telang, juga beberapa varian sayuran dan labu.

"Kita ingin pertanian kota yang modern, agrikultur. Dari Pertamina sudah dapat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), sudah kerja sama, baterai dan panel sudah terpasang, tinggal penyaluran kabel ke rumah-rumah warga. Sebab, nanti menggunakan sistem pertanian hidroponik, dengan kami juga ingin buat pupuk sendiri," pungkasnya.

Kendati demikian, Ipung menyadari masih butuh inovasi dan juga beberapa langkah terobosan guna mewujudkan ketahanan pangan di Kampung Siba, terlebih untuk dapat mensejahterakan warganya.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved