Berita Viral

Dampak Nyata 2 Kampung di Gresik yang Terapkan Daur Ulang Sampah dan Urban Framing

Dua kampung yang ada di Kabupaten Gresik memiliki perbedaan nasib dalam menjalankan hidup lestari dari daur ulang sampah.

Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
Istimewa/Kompas.com
BEDA NASIB - Penampakan salah satu sudut Kampung Kreasi di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan/Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (15/4/2026). Ternyata terlihat perbedaan nasib antara dua kampung yang menggerakkan konsep ramah lingkungan. 

TRIBUNJATIM.COM - Ada dua kampung dalam satu kelurahan di tengah kota, yang menerapkan sistem daur ulang sampah sekaligus urban farming.

Kampung Kreasi yang berada di Jalan Ir Ibrahim Zahir, dan Kampung Siba (Sidokumpul Barat) klasik yang terletak di Jalan Proklamasi.

Kedua kampung ini masuk dalam bagian Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan/Kabupaten Gresik.

Aktivitas warga kedua kampung saat ini bisa dikatakan sudah 'beda nasib', meskipun masih sama-sama konsen dalam menjalankan sistem daur ulang sampah.

Kampung Kreasi

Ketua RT2/RW7, Zuraida (44), mengatakan bahwa Kampung Kreasi yang dirintis sejak 2017 memang sempat berhasil dalam melakukan urban farming di tengah hiruk-pikuk Kota Gresik, melalui komoditas melon.

"Jadi, pada 2022 itu ada kerja sama dengan Pertamina, menanam melon di atas genteng. Awalnya berhasil, bagus, tapi terus berkurang hingga pertengahan 2023. Sempat dicoba lagi pada 2024, cuma enggak jadi. Kebanyakan turun hujan malah enggak jadi (panen tidak sesuai harapan)," ungkap Zuraida.

Selain itu, Kampung Kreasi juga sempat mendapat bantuan bibit ikan dari Polsek Gresik untuk dapat dibudidayakan. Namun seperti halnya yang terjadi pada melon, budidaya ikan sesuai harapan gagal diwujudkan dan membuat warga menjadi trauma.

"Tidak berkembang, karena hasil yang diperoleh dari panen tidak sebanding dengan biaya untuk makan ikan sehari-hari, jadi tidak diteruskan," ujarnya.

Ida menjelaskan, ada beberapa kendala yang harus dihadapi sehingga pihaknya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada daur ulang sampah. Mulai dari faktor cuaca, pendanaan, hingga pemasaran akan hasil urban farming yang dilakukan.

"Kader juga berkurang karena ada kesibukan kerja. Sebab, mencari kader yang mau benar-benar rela meluangkan waktunya saat ini juga susah," kata Ida.

Atas dasar itu, kini Kampung Kreasi lebih berkonsentrasi pada sektor daur ulang sampah, meskipun tanaman masih menghias di beberapa titik dan juga halaman rumah warga.

Baca juga: Penganiayaan Balita di Ngronggo Kediri, Kakak Korban Kuak Sikap Janggal Adiknya: Lebih Banyak Tidur

Kampung Siba

Sementara di Kampung Siba yang dirintis sejak 2018 sebagai andalan zero waste, suasana urban farming masih terasa hingga kini meskipun daur ulang sampah tetap menjadi yang utama.

"Ide awalnya dari Ecoton. Pada 2018, saya pembina karang taruna. Awalnya kami bermain ecobrick (pengolahan sampah plastik) untuk lebih peduli lingkungan," kata Ketua RT2/RW5, Saifudin Efendi (50) di lokasi Kampung Siba.

Namun Ipung, sapaan akrab Saifudin Efendi, menjelaskan bahwa upaya yang dirintis untuk menjadikan kampungnya bersih, asri, dan nyaman, sempat terkendala akibat Pandemi Covid-19.

"Pada 2020, ada Covid, kami break enggak ada aktivitas sama sekali, karena aktivitas saat itu kan dibatasi. Baru 2021 akhir, ada sosialisasi lagi. Awalnya biaya mandiri, sementara Pertamina masuk pada 2022, dalam mendukung program zero waste," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved