Gaya Hidup Belanja Online

Curhat Seller Gamis di Malang, Jualan Online Makin Berat: COD dan Retur Bikin Rugi

Di balik ramainya tren live selling dan belanja online, para pelaku usaha justru menghadapi tantangan baru

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Benni Indo
BISNIS ONLINE - Pegawai di Oliviamo.id sedang jualan langsung di platform online. Para penjual menghadapi tantangan yang tidak mudah berjualan online karena peraturan yang dianggap tidak adil. 

Masalah lain datang dari sistem pengembalian barang atau retur. Dulu, menurut Olivia, ada proses verifikasi yang melibatkan penjual sebelum retur disetujui. Kini, semuanya berjalan otomatis. Dikendalikan sepenuhnya oleh penyedia platform.

“Sekarang pembeli bisa langsung retur tanpa konfirmasi ke kami. Barang langsung dikirim balik, dan dana langsung dipotong oleh penyedia platform,” jelasnya.

Tak jarang, alasan pengembalian pun dinilai tidak logis. Hal itu sering dialami oleh Olivia. Tanpa ada dialog antara penjual dan pembeli, Olivia dipaksa menerima barangnya kembali, dan dipaksa untuk membayar sebagai tanggungan transportasi.

“Ada yang komplain warna ‘yellow butter’ tapi katanya yang dikirim kuning. Padahal itu memang kuning,” katanya sambil tersenyum getir .

Lebih parah lagi, ada kasus di mana barang yang dikembalikan tidak sesuai dengan yang dikirim. Pun ada barang yang sudah dipakai selama seminggu, lalu dikembalikan lagi. Dikatakan Olivia, aturan terbaru memungkinkan pembeli dapat mengembalikan barang maksimal tujuh hari setelah barang diterima.

“Isinya bisa diganti. Harusnya baju, tapi yang balik malah barang lain. Dan itu tetap disetujui sistem. Ada juga yang barangnya sudah dipakai, terus dikembalikan lagi. Padahal sudah seminggu dipakai,” ujarnya.

Bagi Olivia, kondisi ini menciptakan ketimpangan yang semakin nyata antara penjual dan platform. Menurut Olivia, hubungan antara penjual dan platform kini terasa tidak seimbang. Ia menyebut bahwa penjual lebih seperti “pekerja” daripada mitra.

“Kalau mitra itu harusnya setara. Ini tidak. Semua aturan dibuat sepihak dan cenderung menekan penjual,” tegasnya .

Ia juga menyoroti bagaimana platform dinilai terlalu memanjakan pembeli. Bahkan untuk sekadar mendapatkan visibilitas, penjual harus mengeluarkan biaya tambahan.

“Pembeli dimudahkan, tapi penjual yang menanggung risikonya. Kalau tidak iklan, toko kita seperti ditutup. Tidak ada yang lihat live, tidak ada yang lihat produk,” tambahnya.

Di tengah tekanan tersebut, Olivia mulai mempertimbangkan langkah baru—membuka toko offline. Bukan karena ingin meninggalkan dunia digital sepenuhnya, tetapi sebagai upaya mencari keseimbangan.

“Offline itu lebih jelas. Pembeli datang, lihat barang, pegang langsung, tidak ada drama retur yang aneh-aneh,” ujarnya.

Di dalam toko yang masih dipenuhi suara live streaming dan aktivitas pegawai, keputusan itu perlahan terasa semakin masuk akal. Saat sedang berlangsung wawancara di dalam toko, ada pembeli yang datang sekeluarga.

Olivia pun langsung melayani para pembeli itu. Mereka bebas memilih dan berinteraksi dengan penjual. Bagi Olivia, ini bukan sekadar strategi bisnis, tetapi bentuk perlawanan terhadap sistem yang ia anggap semakin tidak adil.

Di tengah gemerlap dunia e-commerce yang terus tumbuh, kisah seperti Olivia menjadi pengingat bahwa di balik angka penjualan dan tren digital, ada pelaku usaha yang terus berjuang menjaga keberlangsungan bisnisnya. Dan mungkin, suatu hari nanti, suara mereka akan lebih didengar. 

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved