Kirab Budaya Eng An Kiong, Upaya Terus Merawat dan Menjaga Kerukunan

Upaya terus merawat dan menjaga Kerukunan di Kota Malang terus dilakukan dengan Kirab Budaya Eng An Kiong.

Penulis: Benni Indo | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM/BENNI INDO
Peserta Kirab Ritual dan Budaya memeriahkan perayaan HUT ke-193 Klenteng Eng An Kiong, Malang, Minggu (21/10/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Memasuki usia ke 193, Yayasan Klenteng Eng An Kiong menyelenggarakan kirab ritual dan budaya.

Kirab ini diikuti oleh 28 kontingen yang berasal dari sejumlah kota di Jawa Timur dan dari luar Pulau Jawa. Para kontingen merupakan yayasan tempat ibadah Tri Darma.

Kirab kebudayaan ini menyedot animo masyarakat Kota Malang. Masyarakat tumpah ruah di jalanan sepanjang Jalan Laksamana Martadinata, Jalan Gatot Subroto Perempatan Klojen hingga kawasan Tugu Balaikota Malang.

Pawai dimulai dari Klenteng Eng An Kion yang berada di Jl Martadinata kemudian bergerak ke Jl Gatot Subroto, melintasi depan Stasiun Malang dan perempatan Klojen, lalu belok kiri ke arah alun-alun Tugu Balikota Malang.

Kaligrafi Teks Pancasila Raksasa di Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo Pecahkan Rekor MURI

Wali Kota Malang Sutiaji melepas langsung kirab budaya itu. Hadir juga dalam acara itu, perwakilan Yayasan Klenteng Eng An Kiong Bunsu Anton Triyono, Kadisbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni, Kapolsek Kedungkandang Kompol Suko Wahyudi, dan beberapa undangan lainnya.

Sutiaji mengatakan, perhelatan kebudayaan dalam rangka peringatan HUT Yayasan Klenteng Eng An Kiong yang ke-193 itu patut diapresiasi.

Pasalnya, eksistensi yayasan telah memberi warna bagi sejarah Kota Malang. Penampilan kebudayaan yang dipertontonkan juga berpeluang menjadi tujuan wisata.

“Ini tradisi ritual, saya kira bisa dijadikan potensi wisata,” ujar Sutiaji, Minggu (21/10/2018).

Ansor dan Banser di Lamongan Pilih Aksi Bersihkan Sampah di Bengawan Solo

Bahkan Sutiaji sendiri berharap kalau acara seperti itu bisa diagendakan setiap tahun. Sutaiji menilai, keberadaan Klenteng Eng An Kiong dan kebudayaan yang dipertahankan adalah salah satu aset Kota Malang.

Oleh sebab itu, sudah seyoigayanya masyarakat Kota Malang mengetahui dan mengenal keberadaan klenteng.

“Kalau bisa diagendakan rutin. Ini memang menjadi aset kita untuk pariwisata,” imbuh Sutiaji.

Ida Ayu menambahkan, acara itu dilaksanakan selama tiga tahun sekali.

Ia sendiri juga tidak menampik kalau acara bisa digelar setahun sekali. Namun begitu, harus dilihat terlebih dahulu persiapannya.

Rony Pria yang Sering Cabuli Anak Laki-laki di Cafe Miliknya di Tulungagung

Selain mempersiapkan agenda, tempat untuk berlangsungnya kirab juga harus diperhatikan. Ida berharap, perayaan tahun-tahun berikutnya bisa lebih baik dengan adanya ruang pawai yang lebih luas.

“Antara penonton dan ruas jalan bisa diatur. Kalau begitu, para rombongan bisa leluasa beratraksi, kan?” ujar Ida.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved