Breaking News:

Cegah Longsor di Kawasan Payung Kota Batu, Pemprov Jatim Akan Buat Sumur Pelega

Untuk mencegah tanah longsor di kawasan Payung Kota Batu, Pemprov Jatim akan membuat sumur pelega atau relief well.

TRIBUNJATIM.COM/BENNI INDO
Warga pengguna sepeda motor sedang melintas di atas jalan yang retak akibat pergeseran tanah di Payung 1, Kota Batu, 2021. 

Reporter: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Jalan dan Jembatan (UPT PJJ) Dinas PU Bina Marga Pemprov Jawa Timur akan membuat sumur pelega atau relief well berdiameter satu meter di beberapa titik kawasan Payung, Kota Batu.

Rencana itu diputuskan setelah adanya koordinasi antara pihak terkait mengenai potensi longsor di kawasan Payung, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.

Kawasan Payung diketahui memiliki struktur tanah yang lunak. Maka dari itu, perlu langkah untuk pembenahan jangka panjang.

Jalan retak yang merambat di jalur penghubung Kabupaten Malang dan Kota Batu itu merupakan jalan provinsi. Selain retak, permukaan tanah di kawasan ini mengalami ambles.

Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Achmad Choirur Rochim, mengatakan, sumur pelega akan mengurangi air agar tak terkonsentrasi di tanah yang berpotensi mengakibatkan terjadinya kejenuhan tanah.

Baca juga: Pemkot Batu Anggarkan Rp 250 Juta untuk Beli Lahan Relokasi Warga Terdampak Longsor di Brau

Baca juga: Ngaku Gus dari Kalimantan, Pria di Malang Tipu Jemaah Pengajian, Hasilnya Buat Sewa PSK

Rochim menerangkan, jika air tidak ditampung, maka kondisi itu sangat riskan memicu tanah labil. Tanah akan menjadi jenuh karena meningkatnya air yang terkonsentrasi dalam tanah.

Melihat kondisi itu, potensi gerakan massa tanah akan sangat tinggi begitu puncak musim penghujan.

“Selain struktur tanah lunak dan banyak kandungan air, konturnya didominasi kemiringan lereng. Riskan mengakibatkan tanah ambles,” kata Rochim, Jumat (19/2/2021).

Karakter kontur wilayah di Payung sama seperti di Dusun Brau, Desa Gunungsari. Lambat laun terjadi peningkatan volume dan beban berat tanah pada bagian lereng. Sehingga pada titik tertentu akan mengakibatkan longsor.

Baca juga: Gairahkan Kembali Pariwisata di Kota Malang, 50 Event Masuk dalam Kalender Disporapar 2021

Baca juga: Pedagang di Payung 1 Kota Batu Diimbau Tak Berjualan Sementara, Mereka Mendapat Bantuan Kebutuhan

"Khawatirnya, lambat laun memicu longsor," terang Rochim.

Berdasarkan hasil kajian, banyak kandungan air yang tersimpan di dalam tanah hingga kedalaman 25 meter. Bahkan di kedalaman 2 meter bisa mengeluarkan sumber air.

Sedangkan penanganan jangka pendek rencananya akan menormalisasi dan memperlebar saluran drainase. Kemudian akan dipasang box culvert. Serta bagian tepi jalan yang masih berupa tanah akan dirabat. Agar air tak meresap ke dalam tanah.

Baca juga: Beda dengan Ketua Paguyuban, Pasar Sayur Kota Batu Klaim Kesejahteraan Pedagang Meningkat 10 Persen

Baca juga: Naik Lagi, Harga Cabai di Kota Blitar Tembus Rp 90 Ribu Per Kilogram, Cuaca Jadi Pemicu

"Penanganan jangka pendek hanya menghambat. Minimal jangan sampai jalan putus dulu dan tidak ada percepatan tanah longsor," ujar dia.

Informasi tambahan, penurunan permukaan tanah paling signifikan pernah terjadi di kawasan Payung pada tahun 2013. Pada saat itu, petugas memasang paku bumi sedalam 15 meter. Kini, kawasan tersebut ambles lagi.

Penulis: Benni Indo
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved