Breaking News:

Antovany Reza: Produk Hasil Start-up Harus Repeatable dan Expandable

Untuk dapat menjadi pemilik perusahaan start-up, menurut Antovany Reza Pahlevi (Reza), ada dua syarat yang harus terpenuhi di dalamnya yakni pertama

istimewa/Nadia Hasna Humaira
Nadia Hasna Humaira 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, JAKARTA - Untuk dapat menjadi pemilik perusahaan start-up, menurut Antovany Reza Pahlevi (Reza), ada dua syarat yang harus terpenuhi di dalamnya yakni pertama barang atau jasa yang dihasilkannya harus repeatable, dapat digunakan berulang oleh para pengguna (user), dan yang kedua adalah produk atau jasa tersebut expandable, artinya bisa diekspansi ke manapun.

Hal tersebut mengemuka dalam perbincangan hangat pada dialog interaktif online, sociopreneur discussion series yang dipandu Nadia Hasna Humaira, seorang penggagas sociopreneur, dengan Antovany Reza Pahlevi (Reza) seorang technopreneur bisnis, yang saat ini tengah membidani lahirnya sejumlah projek start-up dan transformasi digital, Senin (19/4).

“Saat ini saya sedang meng-handle enam perusahaan start-up yang sedang berjalan, salah satunya adalah “Pantoera” yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa – Pantura, ide dasar lahirnya perusahaan start-up Pantoera. Kami membangun Pantoera sebagai satu wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif,” papar Reza yang juga menjadi Direktur Investasi Shinta VR.

Baca juga: Pakar Ekonomi UNAIR: Start-Up Bisa Jadi Kunci Utama Indonesia Untuk Terbebas dari Middle Income Trap

Baca juga: Wakil Bupati Gresik Menginisiasi Kerja Sama Kelas Industri perusahaan Dengan Pendidikan

Baca juga: TERPOPULER BOLA: Tarif Sewa Stadion GBT Naik Hampir 15 Kali Lipat - Caio Ruan Berlabuh di Persipura

Lulusan FISIPOL jurusan Hubungan Internasional UGM ini melanjutkan argumentasi, mengapa dirinya memiliki passion menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya, Kabupaten Batang – Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi talent (bakat) mereka sebagai digital natives (yang lahir sebagai generasi digital).

“Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza yang baru akhir 2020 menjadi talent scout sampai lahirnya Pantoera.

Sementara itu Nadia yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide tersebut secara terbuka dan penuh harap, gagasan membangun satu movement seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Dengan lapang dada dan tangan terbuka, kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih ‘mengena,’ sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun non komersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kualalumpur, Malaysia.

Nadia salut dengan gagasan dan impian Reza yang punya keinginan menjadikan movement ini dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Seperti misalnya kalau ke Kalimantan, nama movement-nya adalah “Borneo” dan di Sumatera nanti namanya kira-kira adalah “Sumatrans.”

Sebab dengan menggandeng anak muda setempat di daerah asalnya, mereka tidak perlu mencari pembuktian (validasi) ke sejumlah kota besar di Indonesia.

Halaman
123
Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved