Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Jatim

Kemarau Panjang Ancam Ketahanan Pangan, Kementan Siapkan Program Antisipasi El Nino

Musim kemarau panjang atau El nino mulai memasuki Indonesia dan diperkirakan akan mencapai puncaknya di bulan Agustus mendatang.

|
Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
Petani di Desa Panggung Kecamatan/Kabupaten Sampang, saat menggali tanah yang kering, September 2019. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Musim kemarau panjang atau El Nino mulai memasuki Indonesia dan diperkirakan akan mencapai puncaknya di bulan Agustus mendatang.

Dampak dari kemarau panjang tersebut bisa menyebabkan kekeringan di berbagai daerah, sehingga dapat berdampak pada sektor pertanian.

Pengamat Pertanian sekaligus Wakil Dekan Fakultas Pertanian dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Sujarwo, mengatakan, El nino akan berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. 

"Dalam sistem produksi pertanian, kekurangan air akan menghambat proses metabolisme tanaman yang berdampak pada penurunan produktivitas sampai pada kegagalan panen. Situasi ini tentunya sangat merugikan bagi petani dan juga ketahanan pangan nasional," kata Sujarwo, melalui seluler, Selasa (16/5/2023).

Sujarwo menambahkan, menurut data BNBP pada Maret 2023, terdapat 11 Provinsi yang berpotensi kekeringan dengan curah hujan rendah.

Baca juga: Suhu di Indonesia Berubah Jadi Lebih Panas, Luhut Singgung soal El Nino

Terdiri dari provinsi Aceh, Bali, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi tengah, dan Sumatera Utara. Padahal, Jawa Timur dan Jawa Barat adalah dua Provinsi besar penopang produk pertanian nasional.

"Dari sisi produksi pertanian, hampir pasti ini akan terancam terjadi penurunan, dan berdampak pada pergerakan harga produk pertanian, yang meningkat bukan karena tarikan demand tapi karena efek penurunan produksi (supply side). Penurunan harga ini akan memukul konsumen, pada saat produksi petani juga tidak terlalu bagus," jelasnya.

Sehingga, sambung Sujarwo, baik masyarakat sebagai konsumen maupun petani sebagai produsen, tidak menjadi lebih baik keadaannya akibat efek yang ditimbulkan El Nino tersebut.

"Ini artinya, secara keseluruhan efek El Nino akan mengancam kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Maka, kata Sujarwo, langkah pemerintah untuk mengantisipasi persoalan ini sudah cukup tepat, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) yang memiliki peranan penting. Dimulai dari program yang saat ini terus dijalankan untuk atasi kekeringan seperti pembangunan embung, waduk, rehabilitasi irigasi, hibah pompa hingga asuransi pertanian.

Baca juga: Kisah Sukses Petani di Jatim Bisa Panen Melimpah Berkat Program Kementan

"Adanya waduk atau embung adalah hal yang baik dalam meningkatkan daya tampung permukaan atas air hujan yang turun. Rehabilitasi saluran irigasi juga penting, karena meningkatkan efektifitas dan efisiensi distribusi air sehingga tidak banyak yang hilang dalam pendistribusian air ke lahan-lahan pertanian," paparnya.

Sementara, lanjut Sujarwo, untuk program Asuransi Pertanian adalah suatu hal yang lain. Asuransi pertanian adalah upaya memitigasi atas risiko dihadapi yang berpotensi pada kehilangan yang besar. 

Maka, petani yang peduli atas hasil usaha taninya akan cenderung membeli asuransi untuk menjaga agar potensi kehilangan tidak terlalu besar.

Baca juga: Kisah Sukses Petani di Jatim Bisa Panen Melimpah Berkat Program Kementan

"Hal ini dikarenakan adanya coverage dari asuransi atas kegagalan produksi yang sangat mungkin terjadi. Apa-apa yang dilakukan pemerintah itu sangat baik dalam upaya mitigasi potensi negatif El Nino," kata Sujarwo.

Sementara itu dari sisi lain seperti teknologi produksi, Kata Sujarwo, tentu terus diupayakan jenis-jenis tanaman yang mampu bertahan pada siutasi air rendah. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved