Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Surabaya

Dinas Kesehatan Surabaya Temukan Pasien Cuci Darah pada Remaja, Pemkot Lakukan Upaya Deteksi Dini

Dinas Kesehatan Surabaya temukan pasien cuci darah pada rentang usia remaja, pemkot lakukan upaya deteksi dini.

Shutterstock
Ilustrasi cuci darah - Pemkot Surabaya menemukan adanya kasus cuci darah pada anak, Senin (12/8/2024). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Constantine

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pemkot Surabaya menemukan adanya kasus cuci darah pada anak.

Menanggulangi kejadian serupa terulang, Pemkot Surabaya melakukan sejumlah upaya.

Data Dinas Kesehatan Surabaya, jumlah Gagal Ginjal Kronis (GGK) di Surabaya selama 2024 telah mencapai 308 kasus (hingga Juli). Jika dibandingkan periode 2023, terdapat penurunan sekitar 20 persen.

Dari ratusan jumlah kasus tersebut, satu pasien di antaranya merupakan remaja.

Pasien tersebut telah melakukan cuci darah (Hemodialisa) di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

"Berdasarkan laporan fasyankes sampai dengan bulan Juli 2024 menunjukkan bahwa kasus Gagal Ginjal Kronis (GGK) pada kelompok usia remaja (17 tahun) sebanyak 1 kasus yang telah menjalani perawatan hemodialisa," kata Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (12/8/2024).

Sekalipun relatif menurun, kasus diabetes melitus (DM) sebagai salah satu penyakit yang berdampak pada GGK cenderung meningkat di Surabaya.

Sampai dengan Juli 2024, jumlah kasus DM telah mencapai 79.864 kasus.

"Jika dibandingkan tahun sebelumnya, ada risiko peningkatan penemuan kasus DM. Dengan semakin masifnya pelaksanaan kegiatan skrining pemeriksaan kesehatan terintegrasi, sehingga diharapkan dapat ditatalaksana sedini mungkin," kata Nanik.

Menuju akhir 2024, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk bisa melakukan pencegahan terhadap penyakit tersebut.

"Perkembangan data tersebut masih bersifat dinamis sampai dengan  akhir tahun 2024 nanti sesuai hasil verifikasi dan validasi data dari fasyankes," lanjut Nanik.

Berdasarkan data tersebut, kasus GGK dan DM paling banyak ditemui pada kelompok usia produktif yaitu 45-54 tahun.

Karenanya, pemkot melalukan serangkaian upaya untuk terus menekan kasus tersebut.

Baca juga: Gagal Ginjal di Indonesia Capai 1,5 Juta Kasus, Jumlah Pasien Cuci Darah di Surabaya Meningkat

Di antaranya, meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada orang tua dan anak.

Dinas Kesehatan mengajak masyarakat untuk memberikan kewaspadaan, dan pencegahan penyakit gagal ginjal pada anak.

Dinkes juga meningkatkan kewaspadaan penyakit gagal ginjal melalui pengamatan dan deteksi dini pada kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular (PTM). Baik Posbindu PTM pada masyarakat, organisasi perangkat daerah (OPD), sekolah, universitas, poskestren, dan pada kegiatan Bindu Jiwa, Rokok dan NAPZA (Jirona).

Nanik Sukristina mengatakan, Dinkes juga melakukan penyelidikan epidemiologi apabila ditemukan kasus gagal ginjal yang berasal dari laporan masyarakat maupun fasyankes.

"Kami juga memantau kondisi pasien oleh keluarga, dibantu oleh KSH (Kader Surabaya Hebat) setempat bagi pasien yang berisiko," katanya.

Dinkes juga menganjurkan untuk minum obat sesuai anjuran dokter. Serta, menghindari penggunaan obat nyeri secara berlebihan dan terus menerus tanpa pengawasan dokter.

Sebagai bentuk penanganan, pasien harus segera dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) atau rumah sakit pada kasus yang memerlukan tidakan lebih lanjut. Khususnya, untuk beberapa gejala.

Di antaranya, demam, infeksi saluran pernapasan akut (batuk, pilek), atau gejala infeksi saluran cerna (diare dan muntah). Kemudian, urine berkurang/tidak ada urine selama 6-8 jam (saat siang hari), serta warna urine pekat atau kecoklatan.

GGK juga bisa dicegah di antaranya dengan tidak mengonsumsi secara terus-menerus dalam waktu panjang dan tidak terkontrol untuk beberapa makanan. Di antaranya, makanan/minuman manis, makanan cepat saji, makanan berkalori tinggi serta makanan/minuman dengan campuran bahan kimia/pengawet.

Kemudian, dianjurkan pula untuk banyak minum air putih dan rutin melakukan aktivitas fisik.

"Masyarakat juga bisa segera melaporkan ke puskesmas/KSH apabila menemukan tetangga/kerabat yang menderita penyakit kronis, terutama gagal ginjal agar mendapatkan pengobatan sedini mungkin di fasyankes terdekat sesuai wilayah," jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengungkapkan, salah satu upayanya adalah dengan mengawasi makanan siswa di sekolah

 "Pagar sekolah ditutup (membatasi pedagang dari luar) sehingga makanannya (yang dijual) merupakan makanan yang harus dijaga," kata Cak Eri, sapaan Eri Cahyadi saat dikonfirmasi di Surabaya.

Pengawasan makanan di kantor sekolah menjadi penting untuk memastikan gizi anak tercukupi dan tak kelebihan gula.

"Kenapa gagal ginjal? Sebab, konsumsi makanan yang berlebihan menyebabkan pasien atau anak kecil tidak mampu," katanya.

"Sehingga, anak-anak ini tidak boleh jajan di luar, melainkan harus di kantin. Sambil kita bisa menghitung kandungan gizi yang masuk ke tubuh siswa," tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved