Breaking News
Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Sejumlah SDN di Mojokerto Tetap Tak Penuhi Pagu, Bersaing Ketat dengan Sekolah Swasta

SPMB 2025 gelombang kedua telah dibuka, namun sejumlah SD di Mojokerto masih tidak bisa memenuhi pagu, karena bersaing ketat dengan sekolah swasta.

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Mohammad Romadoni
SEKOLAH DASAR - Sejumlah siswa SDN Tawangrejo, Mojokerto, berbaris rapi di halaman sekolah, bersiap memulai pembelajaran, Kamis (10/7/2025). Sejumlah sekolah di Mojokerto tidak memenuhi pagu dalam SPMB 2025. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Untuk memenuhi pagu, sejumlah sekolah di Kabupaten Mojokerto membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 gelombang kedua.

Namun dalam pelaksanaan gelombang kedua yang telah dibuka pada 4-7 Juli 2025 dan daftar ulang berakhir pada 9-10 Juli 2025 ini, belum menunjukkan progres signifikan dalam memenuhi pagu siswa SD negeri. 

Dari data Dispendik, tercatat sebanyak 159 SD di Kabupaten Mojokerto tidak terpenuhi pagu siswa, dan mayoritas lembaga pendidikan tersebut berada di wilayah pinggiran atau pelosok.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Ludfi Ariyono mengatakan, persaingan SPMB di jenjang SD negeri tahun 2025 ini cukup ketat dengan sekolah swasta.

"Data sekolah (SD) yang tidak terpenuhi pagu ada 159 sekolah, dari jumlah SDN di Kabupaten Mojokerto sebanyak 385 lembaga," kata Ludfi, Kamis (10/7/2025).

Ia mengungkapkan, ada kenaikan jumlah siswa tahun ini, meskipun beberapa SD tidak memenuhi pagu.

Adapun jumlah pagu siswa jenjang SD tahun 2025 sebanyak 13.796 murid dengan total Rombel (Rombongan Belajar) sekitar 476 kelas.

Untuk pagu SD maksimal 28 siswa per Rombel.

"Secara umum ada kenaikan jumlah siswa kelas 1, di tahun ajaran 2025/2026 sekitar 250 siswa," pungkas Ludfi.

Baca juga: Marah 9 Siswa Tak Lolos Masuk SMA Negeri, Orang Tua Murid Segel Akses Sekolah: Diportal

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dispendik Kabupaten Mojokerto, Mujiati menjelaskan, hasil evaluasi sementara bersama seluruh kepala SD, faktor utama yang diduga menyebabkan sejumlah SDN belum memenuhi pagu, di antaranya semakin berkembangnya sekolah swasta dan letak geografis lembaga pendidikan di pelosok, serta adanya dua SDN letaknya berdekatan.

Jumlah anak lulusan RA/TK di suatu daerah atau desa yang minim, sehingga berpengaruh terhadap pemenuhan pagu, apalagi di daerah pelosok.

Ditambah, setiap sekolah dasar mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, SD akan bersaing ketat terutama dengan sekolah swasta yang memiliki figur tokoh (kepala sekolah) atau yayasan yang kuat di lingkungan sekitar.

"Sekolah SD yang bersaing hebat (SPMB) dengan sekolah swasta, salah satunya adalah SDN Kutogirang. Karena itu (MI) termasuk besar," ucap Mujiati.

Adapun SD yang tidak memenuhi pagu rata-rata mendapat siswa di bawah 10, yakni SDN Begaganlimo dan SDN Gumeng, SDN Dilem di Kecamatan Gondang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved