Tak Lagi Hitung dengan Surat Suara Manual, Pilkades Banyuwangi akan Gunakan E-Voting

Sebanyak 130 desa di Banyuwangi direncanakan mengikuti Pilkades serentak 2027 dengan sistem e-voting

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Aflahul Abidin
PILKADES DIGITAL - Ilustrasi Pilkades di Kabupaten Banyuwangi, Jatim. Rencana Pemkab Banyuwangi untuk melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak yang akan digelar pada Oktober 2027 mendatang dengan sistem digital mulai berjalan, Rabu (10/6/2026).  

Keunggulan lain yang diharapkan dari penerapan e-voting adalah meningkatnya partisipasi masyarakat dalam Pilkades.

Melalui sistem digital, data pemilih akan langsung terintegrasi dengan daftar pemilih tetap (DPT), sehingga proses pemungutan suara menjadi lebih praktis dan efisien.

Meski demikian, pemilih tetap diwajibkan hadir langsung ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya.

"Keunggulan lain dari sistem ini adalah kecepatan penghitungan suara. Begitu waktu pemungutan suara berakhir, hasil perolehan suara dapat langsung diketahui tanpa harus menunggu proses pembukaan dan penghitungan surat suara satu per satu," bebernya.

Simulasi dan Sosialisasi Mulai Digelar

Sebagai bagian dari persiapan, Pemkab Banyuwangi akan menggelar simulasi penggunaan e-voting secara bertahap pada desa-desa yang akan mengikuti Pilkades.

Selain pengadaan perangkat pendukung, pemerintah juga menyiapkan program sosialisasi kepada masyarakat agar lebih memahami mekanisme pemungutan suara digital sebelum pelaksanaan Pilkades serentak 2027.

"Mulai Juni ini kami akan melakukan simulasi secara bertahap. Tujuannya agar masyarakat desa semakin familiar dengan penggunaan e-voting sebelum hari pelaksanaan nanti," tandas Nanin.

Dengan persiapan yang dilakukan sejak dini, Banyuwangi berharap dapat menjadi salah satu daerah pelopor pelaksanaan Pilkades digital yang berlangsung transparan, cepat, dan akuntabel.

Di saat banyak daerah di Indonesia tengah bergelut mencari solusi atas darurat overload Tempat Pembuangan Akhir (TPA), warga Kelurahan Bakungan, Kecamatan Banyuwangi, justru tampil membawa angin segar.

Melalui gerakan gotong royong, mereka membuktikan bahwa sampah rumah tangga bisa diselesaikan di tingkat hulu sekaligus diubah menjadi sumber ekonomi baru.

Melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) bertajuk "Omah Olah Sampah", warga Bakungan aktif melakukan pemilahan dan pengolahan limbah secara mandiri. Fasilitas ini dikelola secara produktif oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Joger Blambangan sejak Juni 2023 dengan melibatkan pemuda karang taruna, tokoh masyarakat, hingga ibu-ibu PKK.

Plt. Lurah Bakungan, Prasetyo Suhartono, menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan program ini terletak pada konsistensi edukasi pemilahan sampah langsung dari dapur rumah tangga.

“Sampai sekarang terus kami edukasi masyarakat untuk memisahkan organik dan anorganik. Memang tidak mudah, tapi harus dibiasakan dari skala rumah agar memudahkan petugas kami di TPS untuk mengolahnya,” cerita Prasetyo saat menerima kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di lokasi TPS 3R, Minggu (7/6/2026).

Kelola 2 Ton Sampah, Disulap Jadi Budidaya Maggot dan Kompos
Saat ini, TPS 3R Bakungan mampu melayani kebutuhan sanitasi sekitar 3.000 warga. Setiap harinya, fasilitas lingkungan ini menerima kiriman sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah domestik.

Dari total volume tersebut, sebanyak dua kuintal (200 kg) sampah organik berhasil dipisahkan dan dieksekusi menjadi berbagai produk bermutu yang bernilai jual tinggi.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved