Breaking News

Tradisi dan Budaya di Jatim

Romansa Pesisir Banyuwangi, Mengungkap Asal-usul Tari Padangulan dan Tradisi Purnama Muda-Mudi

Menelusuri Tari Padangulan, karya seni ikonik Banyuwangi yang lahir dari romansa purnama di pesisir. Kini jadi ajang regenerasi ribuan pelajar lokal.

Tayang:
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Dok. banyuwangikab.go.id
TARI PADANGULAN BANYUWANGI - Tari Padangulan adalah sebuah tarian yang tergolong kreasi baru di Banyuwangi atau dalam istilah daerah disebut golongan tari angklung. 

Jejak Sejarah Tari Padangulan

Sejarah mencatat bahwa Tari Padangulan mulai dipopulerkan pada tahun 1964. Pada awal kemunculannya, tarian ini digarap oleh seorang penari berbakat bernama Wim Arimaya

Pada mulanya gerakan tarian ini banyak mengadopsi unsur-unsur gerak tarian Melayu sebelum akhirnya mengalami transformasi besar-besaran untuk lebih menonjolkan karakter lokal Blambangan.

Penyempurnaan tarian ini dilakukan oleh para seniman tari muda, di antaranya adalah Sumitro Hadi, sosok yang sangat dikenal di dunia seni Banyuwangi

Di tangan para seniman muda ini, gerak dasar Tari Padangulan mulai mengambil unsur-unsur yang terdapat pada pertunjukan Gandrung, baik dari segi penari Gandrungnya sendiri maupun teknik paju

Perpaduan ini menciptakan bentuk tarian yang lebih kokoh, lincah, dan merepresentasikan semangat masyarakat Using.

Secara teknis, Tari Padangulan ditarikan oleh penari laki-laki dan perempuan secara berpasangan dengan jumlah pasangan yang tidak terbatas. 

Motif khas Banyuwangi yang enerjik menjadi nyawa dalam setiap pementasannya. Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara sekolah, resepsi pernikahan, hingga jamuan resmi pada hari besar nasional.

Baca juga: ​Tari Jalak Lawu Magetan, Harmoni Gerak Burung Gading dan Kisah Setia Patih Wongso Menggolo

Harmoni Angklung dan Syair Osing

Kekuatan Tari Padangulan tidak hanya terletak pada gerakannya, tetapi juga pada iringan musik tradisionalnya yang khas. 

Tarian ini diiringi oleh instrumen Angklung Blambangan atau Angklung Dwilaras yang lengkap dengan sinethem, saron, kendang, kempul, gong, dan biola. 

Seluruh instrumen tersebut dimainkan dalam laras slendro menurut sistem nada khas Banyuwangi yang menciptakan atmosfer erotik, melankolik, sekaligus lincah.

Keindahan tarian ini semakin lengkap dengan gending Padangulan yang liriknya menggunakan dialek Osing yang kental. 

Dikutip dari jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, syairnya menggambarkan keindahan pantai yang "kinclong-kinclong" atau berkilauan bagai cermin saat terkena sinar rembulan. 

Lirik tersebut berbunyi: "Padangulan nong pesisir Banyuwangi, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, soren-soren lanang wadon padha teka."

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved