Drainase Rp145 M di Jalan Bondowoso–Sutoyo Malang Tuai Sorotan, DPRD Ingatkan Dampak Ekologis

Anggota DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi mengingatkan Pemkot Malang agar tidak sembarangan mengubah fungsi ekologis kawasan Jalan Bondowoso.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Arie Noer Rachmawati
TribunJatim.com/Benni Indo
PROYEK DRAINASE - Anggota DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi. Ia mengingatkan Pemkot Malang agar tidak sembarangan mengubah fungsi ekologis kawasan Jalan Bondowoso saat pembangunan proyek drainase, Senin (16/2/2026). 

Pasalnya, jalur ini merupakan jalan utama masuk dan keluarnya kendaraan dari Malang menuju Surabaya.

Volume kendaraan lebih banyak saat akhir pekan karena wisatawan masuk Kota Malang.

Baca juga: Alun-alun Malang Bakal Ramah Pejalan Kaki, PKL Tetap Bisa Jualan saat Akhir Pekan dan Ramadan

Proyek Drainase Digarap Maret-April 2026

Komisi C, DPRD Kota Malang akan berdiskusi kembali dengan DPUPRPKP untuk mengawasi rencana pelaksanaan proyek yang digadang-gadang dilakukan tahun ini.

"Kami akan koordinasi dengan DPUPRPKP untuk menyiapkan mitigasi. Kalau pengerjaan setelah Lebaran, masih ada waktu untuk sosialisasi," terangnya.

Kepala DPUPRPKP, Dandung Djulharjanto menyampaikan, pengerjaan drainase itu kemungkinan dijalankan Maret atau April.

Saat ini masih dilakukan proses lelang.

Anggaran yang dialokasikan untuk proyek tersebut sebanyak Rp 145 miliar. 

Dandung menyebut anggaran berasal dari sumbangan Bank Dunia.

"Drainase Bondowoso dan Letjend Sutoyo akan dijadikan satu paket pengerjaan," terang Dandung.

Rencana pengerjaan akan dibahas detail untuk mengindari potensi keluhan warga, kalaupun ada tidak berdampak besar dan bisa segera diatasi.

Baca juga: Jelang Ramadan, Dilema Pedagang Warung Makan di Kota Malang Saat Harga Cabai Tembus Rp 90 Ribu

Dandung menyebut, pengerjaan drainase di Jalan Bondowoso dan Jalan Letjen Sutoyo mendesak dikerjakan untuk mengatasi banjir.

Pengerjaan di Jalan Bondowoso akan memakan jarak 1,2 km, sedangkan di Letjen Sutoyo sepanjang 1,3 km.

Dandung juga menyebut akan membangun mini bozem yang berfungsi menampung air sementara sebelum dialirkan ke saluran baru.

Dengan sistem ini, aliran air diharapkan lebih terkendali dan tidak langsung membebani saluran utama.

“Jadi kita tangkap airnya itu di mini bozem di sana,” jelasnya.

Saat ini, penggunaan anggaran masih berada pada tahap awal.

Proses pengadaan dan lelang proyek sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah pusat sebagai bagian dari mekanisme pendanaan Bank Dunia. 

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews Tribunjatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved