Breaking News
Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Efek Pandemi Covid-19 Baru Terasa, Masyarakat Kelas Menengah Jadi Miskin, Ini Kata Pakar Ekonomi

Efek pandemi Covid-19 baru terasa saat ini, masyarakat kelas menengah jadi miskin, ini penjelasan pakar ekonomi.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Dwi Prastika
TRIBUNJATIM.COM/HAYU YUDHA PRABOWO
Ilustrasi - Aktivitas warga dan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang saat pandemi Covid-19, 2021. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Jumlah masyarakat kelas menengah terus menurun secara signifikan di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, penurunan signifikan pada proporsi kelas menengah dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.

Terdapat tren penurunan pada klasifikasi kelas menengah, menjadi miskin, rentan miskin, dan kelas menengah bawah atau biasa disebut Aspiring Middle Class (AMC).

Pakar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Prof Rossanto Dwi Handoyo mengatakan, faktor utama yang mempengaruhi penurunan ini adalah pandemi Covid-19.

Prof Rossanto berpendapat, pandemi Covid-19 telah melumpuhkan sejumlah sektor, terutama sektor perdagangan internasional.

Penurunan permintaan global ini memaksa perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau memotong jam kerja, yang berdampak langsung pada pendapatan karyawan.

“Akibatnya daya saing perusahaan lokal menurun akibat persaingan dengan negara lain yang lebih kompetitif. Selain itu, pola konsumsi yang meningkat, terutama akses mudah ke pinjaman online, judi online, dan produk gaya hidup murah, semakin memperparah kondisi ini," ucapnya, Jumat (13/9/2024).

Prof Rossanto berpendapat, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada konsumsi.

Sektor konsumsi menyumbang sekitar 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga: 5 Dosen FEB Unesa Gelar Pelatihan Literasi Keuangan dan Ekonomi Digital pada Guru se-Kota Mataram

Oleh karena itu, menurunnya daya konsumsi kelas menengah berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi.

“Konsumsi adalah bantalan perekonomian kita. Jika kelas menengah terus menurun, pertumbuhan ekonomi akan melambat," jelasnya.

Data BPS menunjukkan, pada tahun 2024 terjadi deflasi selama empat bulan berturut-turut dari Mei hingga Agustus.

Prof Rossanto menjelaskan, meski deflasi biasanya dianggap positif karena menunjukan penurunan harga, namun dalam konteks ini justru menjadi indikasi melemahnya daya beli masyarakat.

"Selama 20 tahun terakhir, Indonesia tidak pernah mengalami deflasi berturut-turut. Ini tanda daya beli masyarakat melemah, dan kita harus waspada," tegasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved