Peluru Nyasar di Gresik

Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Wadul ke DPRD Soal Intimidasi Hingga Tuntut Keadilan

Korban sempat dibawa ke UKS dan hanya diberikan pertolongan awal karena sekolah tidak menyangka luka tersebut akibat peluru tajam.

Editor: Torik Aqua
Tribun Jatim Network/YouTube TribunJatim Official
TUNTUTAN - Dewi Muniarti wadul dan meminta keadilan soal anaknya yang menjadi korban peluru nyasar di lingkungan sekolah di Gresik, Senin (6/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  1. Dewi Muniarti menuntut keadilan untuk anaknya korban peluru nyasar.
  2. Terjadi di lingkungan sekolah di Gresik.
  3. Korban alami luka fisik dan trauma, keluarga minta tanggung jawab penuh.

 

TRIBUNJATIM.COM - Dewi Muniarti mendatangi Kantor DPRD Gresik pada Senin (6/4/2026) untuk meminta keadilan atas peristiwa peluru nyasar yang menimpa putranya, Darel Fausta Hamdani (14).

Darel mengalami luka serius hingga menyebabkan cacat pada bagian tangannya setelah terkena peluru saat berada di lingkungan sekolah.

Dewi mengungkapkan, insiden tersebut terjadi saat anak-anak berada di musala mengikuti kegiatan sosialisasi sekolah lanjutan. Saat itu, putranya tengah membaca brosur sebelum tiba-tiba terkena peluru di tangan kiri.

“Anak saya lagi membaca brosur tiba-tiba tangan kirinya kena,” ujarnya.

Baca juga: Siswi Jalan Kaki ke IGD Sambil Tahan Sakit usai Kena Peluru Nyasar, Polisi Masih Irit Bicara

Setelah kejadian, korban sempat dibawa ke UKS dan hanya diberikan pertolongan awal karena pihak sekolah tidak menyangka luka tersebut akibat peluru tajam.

Korban lain, Renhard Octo, yang mengalami luka di punggung justru lebih dulu dibawa ke puskesmas karena kondisinya terlihat lebih parah.

“Padahal anak saya itu duluan yang kena,” kata Dewi.

Baru setelah kembali ke musala, luka pada tangan Darel mulai mengeluarkan darah hingga akhirnya keduanya dirujuk ke rumah sakit.

Dari hasil pemeriksaan medis, diketahui bahwa terdapat peluru tajam yang bersarang di tubuh korban.

Tuduhan Intimidasi saat Proses Penanganan

Dewi juga menyoroti proses penanganan pasca-kejadian yang dinilainya tidak berjalan dengan baik, termasuk dugaan intimidasi dari pihak tertentu.

Ia mengaku ada pihak yang datang ke kamar perawatan anaknya pada dini hari setelah operasi untuk meminta peluru yang bersarang di tubuh korban.

“Kalau memang enggak ada intimidasi dengan dia datang ke kamar perawatan anak saya pasca anak saya keluar dari kamar operasi... itu datang ke kamar itu jam 12.00 malam minta dan memaksa peluru dikasihkan mereka,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menilai cara penyampaian jawaban somasi yang dilakukan pada dini hari sebagai bentuk tekanan.

“Kalau disampaikan ini enggak ada intimidasi lalu dengan datang menyampaikan jawaban somasi dini hari itu apa kalau bukan intimidasi, cara-cara teror,” lanjut Dewi.

Upaya Hukum dan Somasi

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved